Tiga Ratus Ribu Rupiah

Baru saja aku turun dari mobil angkutan umum, hendak menyeberang jalan, aku tertegun melihat diseberang sana seorang bapak tergopoh-gopoh mengangkut batu dasar. Berat. Umurnya mungkin hampir enam puluh tahun. Kulitnya putih , agak keriput tapi menunjukkan bahwa pekerjaannya bukanlah sebagai buruh sedari mudanya. Tumpukan batu itu sudah setengah berkurang dari yang kulihat tadi pagi. Aku hendak melintas di samping kereta dorong pengangkut batu, ketika dia mempersilahkan aku untuk lewat dan bertanya apakah kereta tersebut menghalangi jalanku.

Ah. Bapak itu mengangkut batu dasar yang akan digunakan untuk bangunan rumah orang tuaku. Empat kubik batu, dan dibawa melalui jalan yang menanjak sepanjang seratus lima puluh meter. Bayarannya tiga ratus ribu rupiah untuk pekerjaan yang akan diselesaikannya mungkin dalam dua hari. Kutanyakan ayahku siapa bapak itu. Dia dulunya punya biro dengan usaha yang cukup sukses, tapi itulah pasang surut kehidupan, jawab ayahku.

Aku merenung….. saat ini uang sebanyak tiga ratus ribu sering aku habiskan hanya untuk sekali makan di luar bersama teman. Belanja yang kadang tak perlu pun sering kulakukan. Malu aku pada diri sendiri. Uang sebesar tiga ratus ribu terasa terlalu bayak bila akan kusumbangkan, tetapi terlalu sedikit bila kubelanjakan untuk hal yang sering tak perlu. Tiga ratus ribu bagi bapak tadi adalah kerja keras mengangkut batu selama dua hari untuk biaya makan dan hidup selama seminggu bagi keluarganya.

Peristiwa ini terjadi hampir sejam yang lalu, dan saat ini kubertanya pada diriku, apa arti tiga ratus ribu bagiku kelak aku berumur enam puluh tahun?

Tulisan ini dipublikasi di http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/03/14/tiga-ratus-ribu-rupiah/

Advertisements
Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment